Saya adalah salah seorang yang penasaran,mengapa pusat-pusat turisme di Jakarta tidak seramai Malaysia dengan Kuala Lumpurnya atau Singapura. Berangkat dari rasa penasaran itu, saya memutuskan untuk melihat langsung kondisi objek-objek wisata yang ada di Jakarta. Yang menjadi "korban" saya adalah Kawasan Kota Tua di Jakarta Pusat!
Segala persiapan sudah saya lakukan untuk kunjungan kali ini, dengan tidak lupa membawa kamera buat jeprat-jepret untuk dilaporkan kepada anda-anda semua tentunya ^^. Berangkat menggunakan sepeda motor dari rumah, saya kemudian memutuskan parkir di gedung Untar (maklum tarif parkirnya cmn Rp.1000 sepuasnya) Dari gedung Untar kemudian saya menyebrerang ke arah Citraland dan naik Transjakarta di Halte Jelambar. Turun di Halte Harmoni, saya kemudian mengantre lagi untuk melnjutkan perjalanan ke Halte Stasiun Kota. Nah di Halte terakhir Transjakarta inilah saya berkesempatan melihat penyebrangan bawah tanah yang selama ini hanya saya baca di koran. Dengan adanya penyebrangan bawah tanah ini, pejalan kaki dapat menyeberang menuju arah Stasiun Kota dan ke arah Museum Bank Indonesia dengan nyaman tanpa perlu takut diserempet mobil atau motor.
Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh kira-kira 25meter dari penyebrangan, berjalan kaki menggunakan trotoar yang cukup lebar, namun sayangnya terlihat kotor dan jorok karena banyaknya pedagang kaki lima yang mangkal di sana.Sesampainya di Kawasan KOta Tua,kesan pertama saya adalah kawasan wisata ini cukup menarik. Bangunan-bangunan peninggalan Belanda yang megah dan berdesain unik terlihat terawat dengan baik, kenyamanan menikmati bangunan itu juga ditambah oleh larangan masuknya kendaran ke dalam kawasan itu. Saya pun mulai mengeluarkan kamera dan jepret sana sini, tapi ada yang aneh...sepertinya saya adalah satu-satunya pengunjung yang datang ke sana. Tak tampak adalahnya kesibukan ala objek wisata seperti di luar negeri di mana turis asing dan lokal berjubel di mana-mana. Tapi saya pun pantang mundur dan terus menelusuri kawasan ini lebih ke dalam lagi dan akhirnya sampai ke alun-alun . Alun-alun ini terlihat sangat luas dengan beberapa pohon rindang yang menambah keasriannya. Beberapa pasang muda mudi tampak duduk-duduk di bawah pohon itu dan menikmati semilir angin yang bertiupp sepoi-sepoi.
Puas menikmati alun-alun saya bergegas untuk memutari kawasan ini dengan mengambil jalur belakang. Tapi
pemandangan yang saya lihat berikutnya sungguh mencenggangkan. Di bagian belakang Kota Tua ternyata sangat tidak terawat! Sampah berserakan di mana-mana, lubang yang menganga di trotoar jalan, bangunan yang kusam dan kayunya ambrol sana sini. Hati ini sungguh terasa miris. Inilah perangai bangsa ini, tampak bagus di depan namun busuk di belakang Saya jadi ingat kampanye Visit Indonesia Year yang digaungkan pemerintah, dan saya berpikir apa pemerintah tidak malu mengundang orang datang ke negara kita tapi objek wisatanya saja tidak dirawat dengan baik! Ini belum ditambah dengan tutupnya museum-museum yang ada di Kawasan Kota Tua itu, jadi? sebenarnya apa daya tarik yang ditawarkan?
Apapun yang telah terjdi harus kita sikapi dengan bijak, sejelek-jeleknya Indonesia toh ini negara saya juga (walaupun saya warga keturunan). Dan sebagai warga negara yang baik, saya mendukung penuh diluncurkannya Visit Indonesia Year 2008. Untuk itu saya akan mengkampanyekan Kawasan Kota Tua sebagai objek wisata andalan DKI Jakarta :
Bagi anda yang berjiwa petualang! Kunjungilah Kawasan Kota Tua! Nikmatilah petualangan tiada tara-menyusuri gedung-gedung peninggalan Belanda yang angker. Berhati-hatilah karena perjalanan ini penuh dengan jebakan jalan berlubang di sana sini yang menuntut konsentrasi dan keahlian Anda. Sungguh ini bukan sindiran. Kunjungilah Kawasan Kota Tua...



Tidak ada komentar:
Posting Komentar